banner

Saturday, February 27, 2016

Pembunuh sadis mengaku mendapat bisikan gaib, benar atau hanya alibi?

Kasus pembunuhan dengan mutilasi dilakukan oleh anggota Satuan Intelkam Polres Melawi, Brigadir Petrus Bakus, terhadap dua anak kandungnya, F (5) dan A (3). Berbagai keterangan sudah dikumpulkan polisi dalam pemeriksaan awal terhadap pelaku.

Menurut Kapolda Kalimantan Barat, Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto, kondisi Petrus saat ini sehat. Hanya saja selama pemeriksaan, yang bersangkutan selalu bicara ngawur. Polisi juga mendapat pengakuan soal alasan dia membunuh. Utamanya tentang 'bisikan' gaib untuk melakukan pembunuhan.

Lantas, apakah benar dapat bisikan gaib atau hanya alibi semata?

Psikolog Reza Indragiri menduga pelaku mengalami skizofrenia. Sebuah Kondisi ini menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Sehingga, dia menyebut dalam peristiwa ini pelaku bukanlah menjadikan bisikan gaib sebagai alibi.

"Polisi bantai anak, diduga skizofrenia," kata Reza saat dihubungi merdeka.com, Jumat (27/3).

Reza menjelaskan Polisi merupakan salah satu dari profesi dengan risiko tinggi untuk mengalami skizofrenia. Sehingga, kejadian ini harusnya menjadi tamparan bagi atasan Brigadir Petrus maupun institusi Polri.

Bagaimana mungkin tanda-tanda skizofrenia terabaikan oleh atasan dan lembaga?" ujarnya.

Oleh sebab itu, kejadian ini seharusnya tak mesti sepenuhnya disalahkan kepada pelaku. Dia juga menilai seharusnya Polri setidaknya memiliki tanggungjawab yang besar terhadap mengawasi segala perilaku anggotanya.

"Apalagi ketika yang menjadi korban adalah sipil, maka semakin tegas bahwa pertanggungjawaban institusional juga harus ditunjukkan. Unit SDM, cek menyeluruh dan berkala. Propam, cek kepedulian atasan pada bawahan," tukasnya.

Petrus tega menghabisi nyawa dua anak kandungnya, Jumat (26/2) dini hari. Kini Petrus dimasukkan ke sel Polres Melawi.

Keterangan diperoleh merdeka.com, peristiwa itu terjadi sekitar pukul 00.15 WIB, di kediaman Petrus, di asrama Polres Melawi, Gang Darul Falah, Desa Faal, Kecamatan Nanga Pinoh.

Istri Petrus, Windri, pada saat itu terbangun dari tidurnya. Dia bertemu Petrus berdiri di depannya sambil memegang parang, sambil mengatakan 'mereka baik, mereka mengerti, mereka pasrah, maafkan Papa ya dik'. Petrus juga berniat membunuh Windri. Namun Windri berhasil kabur.

Sebelum kabur, Windri sempat melihat jasad kedua anaknya yang dalam kondisi mengenaskan. Windri kemudian bergegas keluar rumah, melapor, dan meminta pertolongan ke penghuni asrama lainnya.
Pembunuh sadis ngaku dapat bisikan gaib, benar atau hanya alibi?

1 comment: