banner

Thursday, January 21, 2016

Jatuh Bangun Tawan : Jadi Buruh, Buka Bengkel Las hingga menjadi Pemulung

Jakarta - I Wayan Sumardana alias Tawan menjadi buah bibir karena membuat lengan robot dari barang bekas. Tawan mengalami jatuh-bangun kehidupan. 
Jatuh Bangun Tawan Iron Man: Jadi Buruh, Buka Bengkel Las hingga Pemulung


Tawan lulus dari SMK Rekayasa Denpasar pada tahun 2002. Setelah lulus, dia luntang-lantung kesana sini untuk mencari kerja. 

"Saya coba melamar kerja sana sini tidak ada yang menerima," tutur Tawan. 

Tawan mengaku dulunya dia berasal dari keluarga berkecukupan. Kini Tawan harus jatuh bangun menghidupi keluarganya. Kedua orang tua Tawan sudah tiada.

Akhirnya, tahun 2004, Tawan bekerja menjadi buruh yang memberi makan ayam di daerah Karangasem hingga 2005. Setelah itu, tahun 2006, Tawan membuka servis peralatan elektronik seperti TV. 

"Enam bulan bangkrut karena nggak ada yang membayar. Modal sekitar Rp 7 juta yang pinjam dari Lembaga Perkreditan Desa habis total," kisah Tawan.

Setelah bangkrut, Tawan dan keluarganya hanya memiliki uang Rp3 ribu. Modal Rp3 ribu yang mereka miliki ini terus dikumpulkan hingga mereka berani menjadi pengepul rongsokan pada 2007.

Sambil menjadi pengepul rongsokan, Tawan perlahan membuka bengkel las dan servis alat elektronik kembali. Dari usahanya itu dia sempat memiliki anak buah untuk pengepul rongsokan 6 orang dan untuk usaha las 8 orang. 6 bulan lalu, saat dia lumpuh tangan kirinya, semua karyawannya meninggalkannya, kecuali 2 orang. 

"Tapi setelah sakit dan bangkrut, sekarang tinggal 2 orang, 1 tua dan lainnya tuli. Akhirnya saya mulung dan buka servis," kata Tawan.

Istrinya Ni Nengah Sudiartini menambahkan, sewaktu masih sehat penghasilan masih baik. Rata-rata penghasilan saat masih sehat bisa Rp 1 juta sehari dari pekerjaan pemulung dan tukang las. Itu dinikmati dengan dinamika bisnis naik turun sejak 10 tahun lalu. 

"Kalau dulu saya cari uang satu juta rupiah sehari itu mudah sekali. Tapi sekarang kondisi sudah berbeda, sejak saya lumpuh, semua karyawan saya pergi dan meninggalkan dua orang yang setia," kenang dia. 

Namun setelah sakit, penghasilan sebesar Rp 10 ribu per hari, itupun tidak selalu ada di kantongnya.

"Dari penghasilan segitu ya dicukup-cukupin aja," kata Sudiartini.

Sambil menjadi pemulung, istrinya bercerita ia selalu mendampingi Tawan bekerja sama dan belajar menjadi pembeli rongsokan. 

Tawan juga sempat menyisihkan tabungan 'sisa kejayaan' dulu sebesar Rp4,7 juta untuk membeli komponen sensor electroencephalogram (EEG) secara online dari Amerika Serikat, yang digunakannya untuk membuat lengan robot.

1 comment: